Posisi penyair menjadi penting di tengah persekongkolan kreatif dunia cipta puisi. Ada mazhab-mazhab yang mengotakkan para penyair pada kondisi tertentu. Salah satunya adalah warna kerakyatan khas Wiji Thukul. Dialah penyair yang tak segan ‘ngamen’ puisi: baik di Solo, Bandung, Yogya, Jakarta, Surabaya, Korea, dan kota-kota besar di Australia. Juga di warung-warung, restoran, juga di kampus-kampus. Siapa Wiji Thukul? Dan bagaimana pendapatnya tentang sastra dalam konstelasi politik bangsa?
Anda pernah bilang bahwa seorang penyair tak bisa hidup hanya dari menulis puisi. Tapi kenapa Anda masih juga menulis puisi?
Saya memang tidak hidup dari puisi, saya tak percaya dengan menulis puisi kebutuhan hidup bisa terpenuhi. Secara khusus keperluan sehari-hari keluarga, saya peroleh dari kerja di luar kerja kesenimanan. Misalnya: sablon, bikin tas, bikin tikar, tukang pelitur, dan sebagainya. Kalau pun saya masih menulis puisi, karena puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan orang kecil. Orang-orang tertindas semacam saya.
Anda disebut penyair kerakyatan. Ada komentar?
Dalam menulis puisi saya cenderung tak peduli apa pun. Yang menyebut saya penyair kerakyatan kan orang lain. Bukan saya. Kalau saya bilang begitu namanya takabur. Dan memang perlu diluruskan bahwa saya tidak membela rakyat. Saya sebenarnya membela diri saya sendiri. Saya tidak ingin disebut pahlawan karena berjasa memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sungguh saya hanya bicara soal diri saya sendiri. Lihatlah saya tukang pelitur, istri buruh jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan saya semuanya melarat. Mereka semua masuk dalam puisi saya. Jadi, saya tidak membela siapa pun. Cuma secara kebetulan, dengan membela diri sendiri ternyata juga menyuarakan hak-hak orang lain yang sementara ini entah di mana.
Lebih spesifik lagi, dalam menulis puisi Anda masuk aliran mana?
Aliran dalam puisi adalah kenyataan sejarah. Itu tak bisa direkayasa, sebagaimana sejarah menulis kejadian demi kejadian. Aliran tetap ada dalam sastra. Tapi saya tidak mengkhususkan diri untuk masuk aliran tertentu. Saya bisa di mana saja. Tak peduli itu surealis atau naturalis. Masing-masing aliran punya kekuatan tersendiri dan tak bisa dipadamkan. Cuma saya heran dengan aliran surealisme di Indonesia. Di Barat surealisme merupakan mazhab yang ditimbulkan dari pemberontakan terhadap tata nilai sebelumnya, sementaradi Indonesia surealisme lebih diakibatkan oleh kenyataan yang keras dan menekan. Saya curiga, jangan jangan hal tersebut hanya merupakan pelarian.
Apa pendapat Anda tentang sastra dalam konstelasi politik bangsa?
Sastra juga punya kekuatan politik, namun ini belum disadari benar dan jarang dioptimalkan pekerjanya. Contoh konkretnya fenomena cekal-mencekal akhir-akhir ini. Itu pertanda sastra itu berbahaya. Ketika ada baca puisi dan itu dilarang, pasti ada pertimbangan politik di baliknya. Pemerintah selalu mempertimbangkan setiap hal sampai sekecil-kecilnya. Sayang seniman kurang begitu tanggap dalam hal ini. Di daerah seperti Ngawi, Blitar, Sragen atau Wonogiri cerita tentang pencekalan di daerah itu juga pernah timbul, tapi kenapa pers tidak geger. Ini politik pemberitaan. Daerah tidak mempunyai akses ke media. Bahasa lainnya: tidak layak jual untuk konsumen. Beda dengan Emha atau Rendra, bergerak sedikit saja pers sudah geger. Kalau daerah sampai menimbulkan gempa bumi pun selalu disepelekan. Seniman memang harus memperjuangkan gagasannya dengan, misalnya, penerbitan, pementasan, diskusi.
Bisa dijelaskan lebih lanjut?
Orang di daerah itu kan bukan orang terkenal. Ini posisi underdog, Tapi sebenarnya mereka rajin bahkan lebih rajin dari yang Jakarta atau kota kota besar lain yang dimanja oleh media. Namun, karena media jarang melirik kere-kere yang tumbuh berjibun di pedalaman, yah kita mesti memberi perlawanan dengan memperluas jaringan komunikasi. Lalu menciptakan penerbitan yang sepenuhnya tidak meniru konsepsi media yang berorentasi bisnis.
Soal lain, bagaimana pendapat anda tentang pembreidelan?
Tidak setuju! Bukan karena Tempo, Detik, atau Editor. Dulu ketika Revitalisasi Pedalaman dicekal di Blitar, saya di Semarang mengajak teman-teman membuat semacam ‘petisi’, tapi ternyata tidak ada yang peduli. Yah, seniman kita memang seniman yang membutuhkan “top figur”. Saya sungguh prihatin dengan pembreidelan, siapa pun itu dan di mana pun. Tapi saya lebih prihatin dengan kondisi seniman kita. Seniman kan seharusnya peka. Punya rasa sosial dan solidaritas yang tinggi. Mengapa ketika pencekalan atau pembreidelan diberlakukan atas daerah mereka tidak tergerak untuk jadi simpatisan? Mengapa kalau seorang tokoh kena masalah langsung geger. Siapa menunggangi situasi semacam itu. Dan kasus SIUPP belakangan ini hanyalah kasus kecil dari rakyat Indonesia. Ini adalah bukti kesewenang-wenangan dan pembungkaman akal sehat.
Tentang ‘petisi’, Anda merasa gagal menggiring kawan?
Seperti yang saya katakan, seniman kita masih berorientasi pada tokoh. Persoalan kebudayaan kayaknya hanya dikuasai oleh kekuasaan tertentu. Di samping itu juga takut. Banyak seniman kita itu alergi politik. Itu tidak betul. Dengan tidak tahu soal politik kita mudah saja dipermainkan. Kita harus jadi pelaku, bukan objek. Ya saya juga setuju seniman kita banyak yang berdiri sebagai seniman salon. Saya kurang tahu selera sastra mereka. Baginya sastra berada di awang-awang. Tidak kontekstual sama sekali. Bukankah sastra mesti hidup di mana ia hidup? Merekam peristiwa yang tumbuh.
Bagaimana pendapat Anda mengenai trend sastra arus bawah?
Tidak kaget. Di setiap zaman selalu memunculkan kekuatan sastra arus bawah. Sepengetahuan saya di republik ini perjuangan tersebut telah dimulai sejak zamannya Balai Pustaka. Di zaman kolonial, Belanda dengan BP-nya memberi bacaan rakyat disesuaikan dengan kepentingan kolonisme.
Kekuatan arus bawah yang muncul saat itu: Marco Kartodikromo dengan syair “Rempah-Rempah atau “Student Hidjo” (nya) oleh Belanda dianggap bacaan liar. Zaman Jepang kita kenal sosok arus bawal yaitu Cak Durasim. la sangat vokal dalam menentang fasis Jepang lewat kidung ludrukan. Dan di zaman Orba, sastra resmi dipegang oleh penerbitan-penerbitan, sedang arus bawahnya di luar itu semua.
Komunitas seni Kalangan tempat Anda tinggal?
Boleh jadi ini juga termasuk sastra arus bawah. Kami menamakannya “Sanggar Suka Banjir” karena kalau hujan turun sedikit saja sudah banjir. Kegiatannya lukis, teater, puisi dan sebagainya.
Tolong Anda ceritakan tentang perjalanan kepenyairan anda?
Saya bukan penyair protes. Saya menyadari proses. Menulis puisi persoalannya selalu kembali ke persoalan saya sendiri. Kumpulan puisi terdahulu Pelo dan Darman dan Lain-Lain yang dibukukan Taman Budaya Surakarta sangat sarat dengan bahasa-bahasa yang katanya bagus, penuh simbol dan seterusnya. Namun, begitu saya drop out dari sekolah, saat itulah saya sadar tentang arti hidup yang sebenarnya. Di sini saya menghadapi persoalan-persoalan urgen dan tidak sekedar halusinasi. Saya harus mengatur diri sendiri dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Kalau di sekolah yang baik sudah ditentukan, pada hal hal itu belum tentu baik bagi kita. Ada semacam perbenturan nilai. Yah, setelah keluar dari sekolah akhirnya saya harus memilih jadi tukang pelitur. Kalau ada acara sastra atau pentas teater konco-konco kerja kuajak nonton.
Mereka selalu bingung, ndomblong dan bisu setelah nonton drama-drama berat macam milik Samuel Beckett. Mereka jadi sulit diajak berdiskusi. Dari kejadian di atas saya selalu meramu cara tampil yang sekaligus mempengaruhi pola kebahasaan saya. Begitulah, akhirnya puisi-puisi saya mudah ditangkap siapa saja. Saya memang melakukan trial and error dalam menulis puisi. Dan puisi yang sekarang inilah yang menjadi ciri khas saya. Dengan puisi-puisi yang saya anggap khas itulah saya mulai mengamen. Mula-mula saya dianggap orang gila. Kemudian saya menyadari harus ada suatu perubahan. Maka sebelum ngamen puisi, saya ngamen musik (nyanyi) terlebih dahulu. Setelah empunya rumah siap, baru saya ngamen puisi. Ngamen itu elite. Karen posisi si ngamen dan tuan rumah berada sejajar. Kalau pentas kan kita dipandangi dengan dinding pembatas yang jelas.
Anda pernah ngamen puisi dimana saja?
Wah banyak. Antara lain solo, Bandung, Yogya, Jakarta, Surabaya, Korea dan kota-kota besar di Australia. Juga di warung warung, restauran sampai pada kampus. Jadi, kalau ada yang meniupkan tentang perlunya baca puisi di pub atau diskotik, itu merupakan isu yang tak lucu. Seniman-seniman rakyat kita seperti siteran dan semacamnya sudah terbiasa keluar masuk hotel. Cuma inilah hasil pengamatan dengan kacamata tunggal. Merasa menemukan ide baru saja langsung digemborkan padahal itu sudah usang di daerah-daerah pedalaman.
