Perkawinannya dengan Sipon — buruh pabrik moto (bumbu masak) yang kini jadi penjahit di kampung Kalangan — dikaruniai dua anak: Ngantiwani dan Fajar Merah. Ia bangga dengan kedua anaknya karena lukisan anaknya dengan tanda tangan Wani, pernah membuat aparat bertanya-tanya. Bahkan anak pertamanya ini sudah pandai membuat fabel modern yang bagus atas pengalaman tentang penggusuran. Thukul mendirikan dan mengajar di Sanggar Suka Banjir di kampungnya. Bersama-sama dengan orang-orang yang peduli pada rakyat, ia juga mendirikan Sanggar Lukis di Sragen. Buku-bukunya yang terbit sebagai kumpulan tunggal; Mencari Tanah Lapang; Darman dan Puisi Pelo. Sedangkan kumpulan puisi bersama, banyak sekali: termasuk yang diterbitkan Kedubes Jerman.
***********************************************************************
Sebagai penyair maupun aktivis, Anda tidak jarang kena cekal, diintimidasi bahkan kena gebuk. Bagaimana pengalaman Anda?
Sebenarnya masalah cekal-mencekal, pelarangan, pembubaran bahkan intimidasi — baik terselubung maupun terang-terangan — adalah masalah kita bersama. Peristiwa semacam itu setiap hari ada di depan kita, di kota mana pun ada. Bahkan ada yang lebih dari itu, seperti dibunuhnya petani atau rakyat kecil diberbagai tempat: Nipah (Madura), Haur Koneng, Timika, Timtim dan masih banyak lagi. Ini semua adalah masalah sekaligus pengalaman kolektif kita. Penganiayaan-penganiayaan itu adalah masalah dan pengalaman traumatis kita bersama, terutama masalah rakyat kecil.
Penganiayaan itu bentuknya macam-macam. Ada bentuk penganiayaan justru melalui teman-teman sendiri. Teman saya seorang pelukis instalasi pernah omong tentang itu. Banyak seniman lukis yang tidak berani melukis realis bukan karena ditakut-takuti tentara atau polisi secara langsung, tetapi melalui teman-temannya sendiri. Kenapa ditakut-takuti temannya sendiri? Karena temannya ini mendapat ketakutan dari temannya yang pernah ditakut-takuti oleh aparat atau mereka yang punya kekuasaan.
Ini gejala apa?
Inilah salah satu bentuk penindasan yang paling berbahaya. Sebab penindasan yang kita hadapi sekarang ini adalah penindasan yang membuat orang tidak sadar bahwa kita sedang dianiaya, dibungkam tapi tidak merasa dibungkam. Sekarang ini sedang berlangsung secara
sistematis dua macam penjajahan, yaitu penjajahan fisik maupun kesadaran. Dua-duanya bisa kita saksikan dalam waktu bersamaan. Ketika aksi anti pembredelan di Lapangan Monas, seniman Semsar Siahaan dipatahkan kakinya oleh tentara. Ini apa artinya? Sebenarnya yang
dipatahkan bukan cuma kaki Semsar tapi ide-ide demokrasi, ide-ide untuk menyatakan kemerdekaan berpendapatlah yang dibunuh.
Kalau ide itu sudah mati, apa artinya?
Artinya …. Orde Baru berhasil memberangus pikiran rakyat secara sistematis dan efektif. Koran Pikiran Rakyat memang masih ada, ya? Ha…ha…ha…ha…. Maksud saya, kalau kesadaran itu sudah mati ini pertanda bahwa pikiran rakyat sudah diberangus betul-betul.
Tetapi ide-ide demokrasi di negeri ini atau di mana pun apa bisa benar-benar dihapus?
Kalau melihat semakin banyaknya aksi-aksi di sana-sini, saya nggak yakin bahwa ide-ide demokrasi benar-benar bisa diberangus. Disana-sini perlawanan sudah menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Tahun kemarin saja kita mencatat ada 80 kali aksi mahasiswa. Yang dilakukan oleh buruh, ditambah petani, bahkan sampai ratusan. Ini bentuk perlawanan terhadap penindasan yang kita alami bersama yang bisa dilihat dengan mata. Tetapi kalau sekarang masih banyak yang diam, mungkin ada yang tidak beres.
Kenapa Anda menolak undangan baca puisi HUT ABRI di Solo?
Itu pernyataan sikap saya, dan bukan satu hal yang berani atau heroik. Bagi saya itu hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang hidupnya terus-menerus dibayang-bayangi ketakutan, diintimidasi oleh pihak-pihak yang menindas kita. Siapa pun kita, kita harus bersuara menghadapi hal semacam itu. Sebagai penyair maupun pribadi saya merasa punya tanggung jawab. Kalau saya datang, akan mengombang-ambingkan massa. Massa jadi bingung. Kalau anda penyair, karya anda dibaca banyak orang.
Karena itu anda harus jujur dan mempertanggungjawabkan sikap anda kepada banyak orang seperti yang anda katakan lewat karya anda.Tanggungjawab bahwa anda itu merdeka dan tidak mau dimanipulasi. Kalau sikap anda tidak jelas, pembaca anda akan jadi bingung dan
bertanya-tanya, “Wiji Thukul itu bagaimana sih. Omongnya lawan! lawan! tapi kok rangkul-rangkulan sama orang yang menindas”.
Bukankah undangan itu bisa dijadikan tempat mengekspresikan karya dan
sikap Anda?
Bisa jadi seperti itu. Tetapi itu juga momen yang baik bagi pengundang untuk membikin imej di depan orang banyak bahwa mereka mulai terbuka dan demokratis. Mereka bisa bilang, “Wong Wiji Thukul yang biasa bengok-bengok, biasa protes, suka ikut aksi saja diundang kok. Kami kan baik mau mendengarkan dan memberi kesempatan orang lain termasuk yang suka protes”. Ini kan bisa membingungkan orang banyak.
Karya Anda digolongkan sebagai puisi pinggiran, tidak indah, malah vulgar. Tanggapan Anda?
Puisi-puisi saya memang banyak beredar di kalangan aktivis maupun orang kecil, dan memang sangat khas dan cocok untuk orang-orang bawah. Karena puisi-puisi naratif lebih bicara dan komunikatif dalam berbagai pertemuan untuk membicarakan masalah mereka, dibanding puisi-puisi absurd atau yang multi interpretable.
Jadi kalau dulu ada karya sastra yang dianggap liar, sekarang pun ada. Dan saya kira sepanjang sejarah dalam berbagai bidang kehidupan terutama politik akan terus ada yang dianggap liar dan ada yang terus menjaga kemapanannya dengan cara menciptakan serta menjaga kata liar atau kata-kata lain.
Saat menulis puisi, seseorang pasti memasuki pergulatan atau perdebatan estetika. Sejauh mana formulasi tentang kebebasan estetika dalam kaitannya dengan media yang Anda pilih?
Bagi saya berpuisi itu erat sekali dengan pengalaman hidup terutama yang dirasakan penulisnya. Juga berbagai pengalaman atas jagad kata ditambah reaksi-reaksi yang muncul atas kata-kata yang digubahnya. Proses kreatif saya juga bertitik tolak dari pengalaman di samping pandangan bahwa keindahan itu sangat dipengaruhi oleh pengalaman.
Punya pengalaman yang lebih konkret?
Agustus 1982, saya diundang baca puisi di sebuah kampung di Solo dalam acara 17-an. Puisi yang saya baca adalah puisi yang saya buat spontan. Di luar dugaan puisi itu bikin geger orang sekelurahan. Puisinya pendek dan sederhana. Tapi puisinya memang medeni. Judulnya
Kemerdekaan Tahun 1982. Isinya, /Kemerdekaan adalah nasi/ Dimakan jadi tai/. Cuma begitu. Singkat sekali. Tapi apa yang terjadi? Paginya, semua panitia dipanggil ke kelurahan.
Apa yang Anda temukan dari peristiwa ini?
Bagi saya peristiwa ini adalah pengalaman keindahan. Ketika puisi itu saya bacakan, saya lihat orang betul-betul menikmati “kekurangajaran” saya. Saya mendengar komentar dari mereka, “Ya wis ra apa-apa. Pisan-pisan lurah ya digawe bingung,” Dari sini saya menangkap adanya suatu perasaan bersama orang kecil di kampung. Selain pengalaman keindahan saya mulai melihat kedahsyatan kekuatan kata-kata.
Jadi kata-kata penyair itu punya kelebihan?
Mungkin begitu. Suatu hari saya ke Yogya untuk menengok seorang teman. Sampai di Malioboro, saya melihat sedang ada demo di Gedung DPRD yang dilakukan oleh para petani. Saya kaget sekali waktu melihat salah satu poster yang mereka bawa berisi kutipan atas baris puisi saya yang berbunyi, Hanya ada satu kata: lawan! Saya lalu berpikir, ini apa? Saya lalu merasa bahwa kata-kata yang ditulis penyair secara jujur betul-betul kata-kata sejati.
Ket: Wawancara ini dimuat dalam Suara INDEPENDEN No. 5/I/Oktober-Nopember 1995
Sumber: https://www.library.ohiou.edu/indopubs/1996/03/27/0010.html
