Pers Fuhrer

Istilah Pers Fuhrer saya temukan dalam buku tipis berjudul “Pers Merdeka” tulisan Muhammad Yamin diterbitkan oleh Badan Penerbit Nasional N.V Yogyakarta pada 1948.

Pers Fuhrer adalah pers yang hidup di negeri-negeri fasis. Fuhrer (bahasa Jerman) artinya: pemimpin, pengendali pengemudi dan penunjuk jalan. Ajaran yang dijadikan dasar yaitu pengarang harus menulis dan berpikir sesuai dengan kehendak pemimpin besar, dan pembaca harus membaca dan berpendapat seperti Fuhrer yang anti demokrasi dan sosialisme. Pers dikontrol ketat. “Segala pers bersama-sama seluruh kolomnya disediakan untuk menaburkan fasisme. Dan cara persuratkabaran ini diawasi dengan menjalankan censuur dan pengawasan yang mengenai percetakan, perusahaan, serikat-direktur dan himpunan wartawan, karangan dan huruf-huruf yang dipakai. Semuanya diatur dan mesti sesuai dengan paham pemimpin besar,” kata Yamin. Dan kita semua tahu Fuhrer yang paling kesohor adalah Hitler.

Di negeri fasis pikiran rakyat diawasi dengan ketat. Bahkan pengawasan sudah dimulai sebelum seseorang dilahirkan, yakni dengan menjalankan politik kependudukan yang tertentu. Ia tak segan-segan menggunakan setiap paksaan mulai dari ancaman kata-kata hingga kepada pembunuhan secara besar-besaran demi mencapai maksudnya. Keragaman adalah sesuatu yang mengerikan bagi Fuhrer. Pikiran yang berbeda adalah momok. Semua pikiran harus sama, seragam. Untuk menundukkannya digunakanlah laras senapan dan bahasa: “Kita membutuhkan orang-orang yang buta dan tuli, seperti yang kita kehendaki. Kita membutuhkan manusia-manusia mesin yang  dapat menembak tepat,” kata Hermann Goring jenderal besar pembantu Adolf Hitler. Goring adalah arsitek dari Gestapo (singkatan dari bahasa Jerman; Geheime Staats Polizei), polisi rahasi Jerman didirikan 30 Januari 1933 yagn amat ditakuti rakyat. Gestapo inilah yang dimaksudkan sebagai manusia-manusia mesin yang dapat menembak tepat oleh Goring.

Prinsip kepemimpinan fasis menunjukkan betapa ekstrimnya konsep pemerintahan yang elitis. Ia sepenuhnya mencerminkan sifat yang tidak rasional dari politik fasis, yakni pemimpin dianggap tidak mungkin bersalah dan dianggap mempunyai kesanggupan-kesanggupan gaib dan dapat ilham. Dalam suatu konflik antara pendapat umum dan pendapat pemimpin fasis, kemauan terakhirlah yang harus dimenangkan. Nasionalisme dimanipulasi sedemikian rupa, sehingga hendak Fuhrer idem ditto kemauan bangsa. Fuhrer adalah bangsa, bangsa adalah Fuhrer. “Siapa yang dianggap musuh Partai Nasional-Sosialisme” demikian kata penganut-penganut Nazi, “adalah musuh bangsa Jerman”. Walaupun Anda cinta benar-benar kepada Jerman, tapi tidak sependapat dengan Nasional-Sosialisme mengenai apa yang baik untuk Jerman, Anda akan diganyang. Nasional Sosialisme adalah partai resmi yang dipimpin langsung oleh Hitler.

Gestapo dalam kerjanya tidak bertanggung jawab pada siapapun. Bisa bertindak dan memutuskan sendiri apa yang dilakukannya. Juga punya administrasi sendiri. Ada bagian yang tugasnya mengawasi segala aliran politik yang legal dan ilegal. Tiap-tiap pendapat pribadi sedapat mungkin harus dapat dikendalikan. Dan itu masih dibagi-bagi kaum buruh, juga front buruh Jerman yagn syah itu harus dibersihkan. Gereja pun dipantau kegiatannya. Mereka punya tukang kepruk dan pukul yang menjaga pejabat Nazi agar terhindar dari segala percobaan pembunuhan.

Di bawah cengkeraman kekuasaan Hitler pers dan wartawan menjadi perabot atau pelayan buah pikiran fasisme belaka. Pers yang kritis dibredel. Teknik brainwashing digunakan oleh kaum fasis untuk menundukkan pikiran seseorang hingga ke titik dimana secara umum mengakui kesalahan-kesalahan yang tidak diperbuatnya dan mungkin tidak akan pernah dilakukannya. Setelah melalui pikirannya sendiri, ia hanya memutarkan kembali seperti halnya dengan plat gramophon.

Retorika-retorika yang bodoh, nasionalisme yang sempit dan rasialis bertebaran di kolom-kolom koran. Kesenian, buku-buku bangsa, matematika, fisika, anjing, kucing, arsitektur, etika, ilmu masak, agama, semua harus segaris dengan pikiran Fuhrer. Kantor berita Partai Nazi, 3 April 1937 menulis: “Kita menuntut agar setiap ayam bertelur 130 sampai 140 kali setahun. Peningkatan ini tidak dapat tercapai melalui ayam-ayam campuran (tidak bersifat Arya) yang dewasa ini berkeliaran di peternakan-peternakan Jerman. Bunuhlah ayam-ayam ini dan gantikanlah mereka”. Seorang jenderal mengatakan, “kelinci pasti bukan binatang Jerman, karena penakut sekali. Lain halnya dengan singa, tak dapat disangkal lagi kita dapat melihat sifat-sifat dasar Jermannya”. Bahkan seorang rektor universitas pun bilang: “Tak ada pengetahuan yang dapat dicapai demi pengetahuan saja. Pengetahuan semata-mata merupakan latihan-latihan pikiran yang didasarkan atas prinsip militer untuk mengabdi kepada bangsa. Universitas harus menjadi tempat pertikaian untuk intelek. Berbahagialah Adolf Hitler dan kerajaannya yang abadi!”

Dan seorang pejabat Jerman memperingatkan: “Diskusi mengenai masalah-masalah yang menyangkut hidup serta bangsa kita harus dihentikan sama sekali. Barang siapa yang berani menyangsikan kebenaran golongan Nasional Sosialisme akan dicap sebagai pengkhianat”.

Oleh sebab itu dibawah sistem fasisme jangan coba-coba anda berdiskusi. Baik tentang hutan di Kalimantan yang botak, Marsinah yang tak jelas siapa pembunuhnya, kebebasan berpendapat, serikat buruh, suksesi, nuklir, nyawa yang hilang di Dili, hukum atau siapapun. Bukankah 4 April 1938 di Austria Adolf Hitler, seperti yang dikutip oleh New York Times sehari setelah itu, mengatakan: “Semua orang di Jerman adalah penganut Nasional Sosialisme, beberapa gelintir orang yang berada di luar partai adalah orang gila atau tolol.”

Solo, Mei 1995

Sumber: Buletin Seni & Budaya Nomer 3 Th. I – 1995, diterbitkan oleh “Kelompok Tanggap” Solo.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *