Belajar Berbeda Pendapat Belajar Bersikap Demokratis

Oleh Wiji Thukul

Ketika AJANG baru nongol dia sudah disambut dengan pertanyaan sinis, “Apakah AJANG Cuma terbit untuk kali ini saja?” Sebuah pertanyaan yang tajam dan menantang. Buletin-buletin yang pernah terbit di Solo memang biasanya tak pernah berumur panjang. Kebanyakan “sekali berarti sudah itu mati.” Sekali terbit lantas mampus. Tak ketahuan kemana para redakturnya pergi. Karena itu AJANG mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada teman yang melemparkan pertanyaan tadi. Sekaligus inilah jawaban AJANG: selamat membaca nomer kedua ini.

AJANG tidak dikelola oleh pribadi-pribadi yang anti kritik. AJANG membuka diri atas kritik. Dari siapa pun. Dari kelompok mana pun. Semakin banyak perbedaan pendapat berarti semakin sehat. Semakin demokratis. Bukankah itu yang kita inginkan bersama? Hanya otoriterlah yang takut melihat perbe-daan pendapat. Hanya negara otoriterlah yang cemas melihat sikap kritis rakyatnya.

AJANG adalah media yang demokratis. Karena itu menyambut baik kelompok mana pun yang ingin membuat penerbitan buletin atau apa pun. Karena itu berarti akan memperkaya khazanah pemikiran kita. Kita semua: kita dan anda.

Hanya mereka yang berkepribadian kerdillah yang takut melihat kelompok lain tumbuh. Tapi kami yakin anda adalah orang yang menentang terhadap segala bentuk pengekangan kreativitas. Baik yang berujud kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat maupun kebebasan berekspresi, dalam segala manifestasinya: tulisan, pertunjukan, pameran, berdiskusi, maupun berorganisasi.

Solo, November 1994.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *