Wawancara/Opini

Menolak Tampil Baca Puisi di HUT ABRI

Sehubungan dengan pemberitaan di media massa (Suara Merdeka, 27/9) tentang akan tampilnya aku, untuk jadi salah seorang pembaca puisi dalam perayaan HUT ABRI ke-50, yang akan diselenggarakan di Taman Budaya Surakarta pada tanggal 1 Oktober 1995 yad. Maka dengan ini aku ingin memberi penjelasan agar kesimpangsiuran informasi bisa dihindari. Sehingga masyarakat tidak jadi bingung akibat […]

Menolak Tampil Baca Puisi di HUT ABRI Read More »

Belajar Berbeda Pendapat Belajar Bersikap Demokratis

Oleh Wiji Thukul Ketika AJANG baru nongol dia sudah disambut dengan pertanyaan sinis, “Apakah AJANG Cuma terbit untuk kali ini saja?” Sebuah pertanyaan yang tajam dan menantang. Buletin-buletin yang pernah terbit di Solo memang biasanya tak pernah berumur panjang. Kebanyakan “sekali berarti sudah itu mati.” Sekali terbit lantas mampus. Tak ketahuan kemana para redakturnya pergi.

Belajar Berbeda Pendapat Belajar Bersikap Demokratis Read More »

Pers Fuhrer oleh Wiji Thukul

Pers Fuhrer

Istilah Pers Fuhrer saya temukan dalam buku tipis berjudul “Pers Merdeka” tulisan Muhammad Yamin diterbitkan oleh Badan Penerbit Nasional N.V Yogyakarta pada 1948. Pers Fuhrer adalah pers yang hidup di negeri-negeri fasis. Fuhrer (bahasa Jerman) artinya: pemimpin, pengendali pengemudi dan penunjuk jalan. Ajaran yang dijadikan dasar yaitu pengarang harus menulis dan berpikir sesuai dengan kehendak

Pers Fuhrer Read More »

Wiji Thukul: Sastra Bisa Bikin Kritis

  Sastra Bisa Bikin Kritis Sastra memang takkan terlepas dari nuansa hidup. Apa dan bagaimana manusia bertingkah laku serta berpola pikir terpotret di dalamnya. Wiji Thukul, seorang pekerja sastra telah memotret kenyataan hidup yang terpinggir dalam perhelatan sastra pinggirnya. Berkenaan dengan hal tersebut, ia menuturkan kepada IDEAS di sela-sela acara seminar Peranan Negara dalam Perkembangan

Wiji Thukul: Sastra Bisa Bikin Kritis Read More »

Wiji Thukul: “Orde Baru Memberangus Pikiran Rakyat”

Wiji Thukul, si penyair demonstran itu, lahir di Kampung Sorogenen, Jebres, Solo, 1963. Seperti mayoritas tetangganya, ayahnya juga seorang tukang becak. Tahun 1982 ia drop-out dari SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia), jurusan tari. Pengalaman ini, dan sejumlah pengalaman lainnya — seperti menjual koran (waktu tinggal di Semarang), buruh/tukang pelitur dikampungnya, bahkan ngamen ke kota-kota lain

Wiji Thukul: “Orde Baru Memberangus Pikiran Rakyat” Read More »

Pikiran Punya Hukum Sendiri

Pikiran Punya Hukum Sendiri Oleh: Wiji Thukul *) “Punya buku Nyanyi Sunyi-nya Pram?” seorang mahasiswa bertanya kepada kawanya yang aktivis, dengan berbisik-bisik. “Aku pengin beli. Kopiannya juga mau,” sambungnya dengan bersungguh-sungguh. Dalam kereta senja ekonomi Jakarta-Solo seorang bapak meminjam buku memoar Oei Tjoe Tat yang sedang aku tekuri. Kemudian bertanya padaku dengan pandangan terheran-heran :

Pikiran Punya Hukum Sendiri Read More »